THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Minggu, 17 Oktober 2010

Tsunami

Tsunami (bahasa Jepang : "tsu" = pelabuhan dan "nami" = gelombang, secara harafiah berarti "ombak besar di pelabuhan" adalah perpindahan badan air yang disebabkan oleh perubahan permukaan laut secara vertikal dengan tiba-tiba. Perubahan permukaan laut tersebut bisa disebabkan oleh gempa bumi yang berpusat di bawah laut, letusan gunung berapi bawah laut, longsor bawah laut, atau atau hantaman meteor di laut. Gelombang tsunami dapat merambat ke segala arah. Tenaga yang dikandung dalam gelombang tsunami adalah tetap terhadap fungsi ketinggian dan kelajuannya. Di laut dalam, gelombang tsunami dapat merambat dengan kecepatan 500-1000 km per jam. Setara dengan kecepatan pesawat terbang. Ketinggian gelombang di laut dalam hanya sekitar 1 meter. Dengan demikian, laju gelombang tidak terasa oleh kapal yang sedang berada di tengah laut. Ketika mendekati pantai, kecepatan gelombang tsunami menurun hingga sekitar 30 km per jam, namun ketinggiannya sudah meningkat hingga mencapai puluhan meter. Hantaman gelombang Tsunami bisa masuk hingga puluhan kilometer dari bibir pantai. Kerusakan dan korban jiwa yang terjadi karena Tsunami bisa diakibatkan karena hantaman air maupun material yang terbawa oleh aliran gelombang tsunami.

Dampak negatif yang diakibatkan tsunami adalah merusak apa saja yang dilaluinya. Bangunan, tumbuh-tumbuhan, dan mengakibatkan korban jiwa manusia serta menyebabkan genangan, pencemaran air asin lahan pertanian, tanah, dan air bersih.
Sejarawan Yunani bernama Thucydides merupakan orang pertama yang mengaitkan tsunami dengan gempa bawah lain. Namun hingga abad ke-20, pengetahuan mengenai penyebab tsunami masih sangat minim. Penelitian masih terus dilakukan untuk memahami penyebab tsunami.
Teks-teks geologi, geografi, dan oseanografi di masa lalu menyebut tsunami sebagai "gelombang laut seismik".
Beberapa kondisi meteorologis, seperti badai tropis, dapat menyebabkan gelombang badai yang disebut sebagai meteor tsunami yang ketinggiannya beberapa meter diatas gelombang laut normal. Ketika badai ini mencapai daratan, bentuknya bisa menyerupai tsunami, meski sebenarnya bukan tsunami. Gelombangnya bisa menggenangi daratan. Gelombang badai ini pernah menggenangi Burma (Myanmar) pada Mei 2008.
Wilayah di sekeliling Samudra Pasifik memiliki Pacific Tsunami Warning Centre (PTWC) yang mengeluarkan peringatan jika terdapat ancaman tsunami pada wilayah ini. Wilayah di sekeliling Samudera Hindia sedang membangun Indian Ocean Tsunami Warning System (IOTWS) yang akan berpusat di Indonesia.

Penyebab Terjadinya Tsunami


Tsunami dapat terjadi jika terjadi gangguan yang menyebabkan perpindahan sejumlah besar air, seperti letusan gunung api, gempa bumi, longsor maupun meteor yang jatuh ke bumi. Namun, 90% tsunami adalah akibat gempa bumi bawah laut. Dalam rekaman sejarah beberapa tsunami diakibatkan oleh gunung meletus, misalnya ketika meletusnya Gunung Krakatau.
Gerakan vertikal pada kerak bumi, dapat mengakibatkan dasar laut naik atau turun secara tiba-tiba, yang mengakibatkan gangguan keseimbangan air yang berada di atasnya. Hal ini mengakibatkan terjadinya aliran energi air laut, yang ketika sampai di pantai menjadi gelombang besar yang mengakibatkan terjadinya tsunami.
Kecepatan gelombang tsunami tergantung pada kedalaman laut di mana gelombang terjadi, dimana kecepatannya bisa mencapai ratusan kilometer per jam. Bila tsunami mencapai pantai, kecepatannya akan menjadi kurang lebih 50 km/jam dan energinya sangat merusak daerah pantai yang dilaluinya. Di tengah laut tinggi gelombang tsunami hanya beberapa cm hingga beberapa meter, namun saat mencapai pantai tinggi gelombangnya bisa mencapai puluhan meter karena terjadi penumpukan masa air. Saat mencapai pantai tsunami akan merayap masuk daratan jauh dari garis pantai dengan jangkauan mencapai beberapa ratus meter bahkan bisa beberapa kilometer.
Gerakan vertikal ini dapat terjadi pada patahan bumi atau sesar. Gempa bumi juga banyak terjadi di daerah subduksi, dimana lempeng samudera menelusup ke bawah lempeng benua.
Tanah longsor yang terjadi di dasar laut serta runtuhan gunung api juga dapat mengakibatkan gangguan air laut yang dapat menghasilkan tsunami. Gempa yang menyebabkan gerakan tegak lurus lapisan bumi. Akibatnya, dasar laut naik-turun secara tiba-tiba sehingga keseimbangan air laut yang berada di atasnya terganggu. Demikian pula halnya dengan benda kosmis atau meteor yang jatuh dari atas. Jika ukuran meteor atau longsor ini cukup besar, dapat terjadi megatsunami yang tingginya mencapai ratusan meter.

Gempa yang menyebabkan tsunami :

- Gempa bumi yang berpusat di tengah laut dan dangkal (0 - 30 km)
- Gempa bumi dengan kekuatan sekurang-kurangnya 6,5 Skala Richter
- Gempa bumi dengan pola sesar naik atau sesar turun

Baca Selengkapnya...

Microburst

Microburst adalah sebuah downdraft (angin yang menghempas kebawah) dalam skala kecil dan sangat intens yang turun ke tanah yang menyebabkan perbedaan/penyimpangan angin yang kuat. Sebuah microburst awalnya berkembang ketika downdraft mulai meluncur ke bawah dari awan hujan. Area yang diliputinya biasanya kurang dari 4 kilometer. Microbursts mampu menghasilkan angin lebih dari 100 mph menyebabkan kerusakan yang signifikan. Rentang waktu terjadinya sebuah microburst adalah sekitar 5-15 menit.
contoh microburst


Ketika hujan turun atau bercampur dengan udara kering, ia mulai menguap dan proses penguapan ini mendinginkan udara. Udara sejuk tersebut turun dan mengalami percepatan saat mendekati tanah. Ketika udara sejuk tadi mendekati tanah, ia akan menyebar ke segala penjuru dan penyimpangan arah angin inilah yang disebut microburst. Dalam iklim lembab, microburst juga dapat dihasilkan dari curah hujan yang tinggi.

Dalam artian lebih luas Downburst dapat didefinisikan sebagai suatu downdraft yang kuat dengan angin yang merusak di atas atau di dekat tanah. Jika area yang dilalui kurang dari 2,5 kilometer, maka disebut microburst. Kecepatan microbursts yang dapat menghempaskan apa saja yang ”dilabrak”nya betul-betul sangat berbahaya untuk penerbangan. Selama tahap ledakan di atas atau dekat awan, angin "keriting" sebagai udara dingin dari microburst bergerak menjauh dari impact point di atas tanah. (Disebut juga tahap bantalan/cushion stage). Selama tahap bantalan, angin keriting tadi terus bergerak cepat secara horizontal dan sangat mengancam pesawat yang diterjangnya. Ilustrasi di atas bisa sedikit menggambarkan proses terjadinya microburst.

Microburst diklasifikasikan sebagai microbursts kering atau basah, tergantung pada seberapa banyak curah hujan yang menyertai microburst ketika mencapai tanah.

Karena kurang tersosialisasinya di operator penerbangan kita, fenomena microburst ini jarang terdengar dilibatkan dalam setiap kasus investigasi kecelakaan pesawat, walau mungkin saja ia sering datang seperti halnya di negara lain. Seperti hasil penelitian di AS, diketahui bahwa microburst merupakan salah satu penyebab jatuhnya pesawat di sekitar landasan pacu.

Baca Selengkapnya...

Minggu, 10 Oktober 2010

Pesawat Terbang - dari mimpi hingga nyata

Wright bersaudara mencoba pesawat mereka.

Asal mula pesawat diawali oleh Orville Wright dan Wilbur Wright atau sebutan bagi mereka Wright bersaudara. Mereka adalah anak dari Milton dan Susan Wright. Adalah ayah mereka yang mendorong Wright bersaudara unutk menyukai pesawat. Di tahun 1878, Milton Wright kembali dari perjalanan kerja yang berkaitan dengan helikopter bertenaga gelang karet. Walaupun umur Wright bersaudara masih tergolong muda, mereka langsung mempelajari model helikopter itu dan mulai membuat replikanya.

Pada tahun 1896, Wright bersaudara berhasil mengelola perusahaan sepeda mereka. Saat itu, koran-koran memuat artikel tentang pesawat layang dan orang yang menciptakannya yang mencoba untuk terbang. Ini membuat Wright bersaudara mulai berpikir. 
Mereka melihat bahwa semua pesawat yang dikembangkan sampai saat itu tidak memiliki kontrol.


Untuk memulai imajinasi mereka, Wilbur menulis surat kepada Institut Smithsonian. Mereka meminta semua informasi tentang pengalaman terbang yang mereka punya. Di tahun 1899, mereka membuat sebuah sistem yang sederhana yang dapat digunakan untuk mengontrol sirip dari sayap biplane mereka. Mereka mencoba sistem ini pada semua pesawat layang yang mereka buat.


Wright bersaudara menggunakan Kitty Hawk, Carolina Utara, untuk mencoba ragam model-model pesawat layang yang mereka buat. Mereka meluncurkan dua pesawat layang mereka pada 1900 dan 1901, tetapi mereka kecewa karena kurangnya daya angkat dan kontrol. Mereka kembali ke rancangan mereka dan menghabiskan musim dingin tahun 1901-1902 untuk membuat terowongan angin dan melakukan eksperimen tentang bentuk sayap yang bagus untuk digunakan. Ini membuat mereka dapat membangun sebuah pesawat layang dengan daya angkat yang tinggi. Menjelang akhir tahun 1902, mereka meluncurkan pesawat layang mereka yang ketiga.


Musim dingin berikutnya mereka habiskan dengan membuat rancangan mesin berbahan bakar, yang kecil dan kuat untuk mengangkat pesawat terbang. Mekanik mereka Charlie Taylor sangat membantu saat merancang mesin. Mereka juga merancang baling-baling pesawat yang pertama, dan akhirnya mereka membuat pesawat dengan tenaga baru.


Saat mereka mencoba pesawat mereka dengan tenaga baru mereka menemukan masalah. Cuaca yang gampang berubah adalah sesuatu yang tidak bisa mereka ubah. Akan  tetapi, bukan itu saja masalah mereka, bagian dari kontrolnya yaitu baling-baling merupakan masalah baru. Pada percobaan pertama, poros baling-baling mereka rusak dan pada percobaan kedua, pengatur kecepatan putaran baling-baling mereka terlalu longgar. Dan, pada percobaan ketiga salah satu poros baling-baling mereka retak. Orville akhirnya menemukan pemecahannya dengan menggunakan baja pegas untuk membuat poros mereka yang baru. Pesawat itu siap dan mereka memanggilnya The Flyer.


Setelah tiga percobaan yang gagal, mereka akhirnya membuat sejarah ilmu penerbangan pada 17 Desember 1903. Orville Wright membawa The Flyer terbang setinggi 120 feet (36,5 meter) selama 12 detik secara terus-menerus. Beberapa jam berikutnya mereka terbang sebanyak 4 kali dengan ketinggian 852 feet (255,6 meter).


Baca Selengkapnya...

Richard "The Lion Heart"



Richard I (Richard "The Lion Heart")
Richard I atau Richard "The Lion Heart" (atau bahasa Indonesianya Richard "Si Hati Singa") adalah seorang raja Inggris pada tahun 1189 sampai 1199. Dia lahir pada 6 September 1157 di Beaumont Palace, Oxford. Ia adalah anak ketiga dari Henry II dari Inggris dan Eleanor dari Aquitaine. Sama seperti saudaranya, dia bersatu bersama keluarganya, memberontak untuk melawan ayahnya pada tahun 1173. Pada tahun 1183, saudaranya Henry, meninggal dan membuat Richard menjadi pewaris tahta selanjutnya. Henry II akan memberikan Aquitaine kepada anak termudanya, John. Akan tetapi, Richard menentang hal itu, dan di tahun 1189 dia merebut tahta Inggris dari ayahnya dengan bantuan Phillip II dari Perancis. Raja Henry II meninggal pada Juli 1189. Richard pun dinobatkan menjadi raja pada 3 September 1189.


Richard I saat Perang Salib ketiga
Sebagai raja, Richard bertekad untuk mengikuti Perang Salib ketiga, yang didorong oleh penaklukkan Yerusalem oleh Saladin pada 1187. Untuk menjalankan recana ini, dia menjual sheriffdomnya (daerah yuridiksi) dan kantor-kantor lainnya, dan pada tahun 1190 dia akhirnya berangkat menuju ke tanah suci. Saat Mei, dia telah sampai di Cyprus dimana dia menikahi Berengaria, anak perempuan dari raja Navarre. Richard tiba di tanah suci pada Juni 1191. Saat September, kemenangannya di Arsuf membuat para tentara salib memiliki Joppa. Meskipun dia semakin dekat, Yerusalem, inti dari Perang Salib, dia jauhi dulu. Lagipula, pertengkaran sengit antara kontingen Perancis, Jerman, dan Inggris memberikan masalah yang lebih banyak. Setelah stalemate selama setahun, Richard melakukan gencatan senjata dengan Saladin dan mulai melakukan perjalanan pulangnya.

Cuaca buruk membuatnya pergi ke daratan dekat Venesia. Dia dipenjara oleh Duke Leopold dari Austria dan dia diberikan kepada kerajaan Jerman, setelah kaisar Henry VI menebusnya dengan uang sebesar 150.000 mark (mata uang Jerman). Pada tahun 1194, dia dibebaskan. Dia langsung kembali ke Inggris dan dinobatkan untuk kedua kalinya. Sebulan kemudian dia berangkat ke Normandia dan tak pernah kembali. Lima tahun terakhir dia jalani dengan perang yang berselang-seling melawan Phillip II. Saat dia menyerang benteng Châlus di tengah Perancis, dia terluka parah dan meninggal pada 6 April 1199. Dia pun digantikan oleh saudaranya John, yang telah menghabiskan waktu merencanakan hal yang licik terhadap Richard, selama Richard absen dari memerintah.

sumber http://www.bbc.co.uk/history/historic_figures/richard_i_king.shtml (dengan adaptasi)

Baca Selengkapnya...

Angin Topan - angin berkecepatan tinggi

Angin topan dilihat dari dekat
Angin topan dilihat dari luar angkasa

Bagi yang masih belum tahu apa itu angin topan, ini pengertiannya. Angin topan adalah pusaran angin kencang dengan kecepatan angin 120 km/jam atau lebih yang sering terjadi di wilayah tropis diantara garis balik utara dan selatan, kecuali di daerah-daerah yang sangat berdekatan dengan khatulistiwa. Angin topan disebabkan oleh perbedaan tekanan dalam suatu sistem cuaca. Angin ini di daerah tropis umumnya berpusar dengan radius ratusan kilometer di sekitar daerah sistem tekanan rendah yang ekstrem, dengan kecepatan sekitar 20 km/jam. Di Indonesia dikenal dengan sebutan angin badai. Umumnya angin topan banyak terjadi di tengah laut yang suhunya tinggi. Oh iya, angin topan juga akan bertambah kecepatannya saat melewati daerah bersuhu tinggi. Jadi, kalau global warming memang benar terjadi, angin topan di masa yang akan datang kemungkinan akan bertambah kecepatannya dan akan bertambah besar diameter pusarannya.


Nah, bagaimana kita tahu bakal ada angin topan? Berikut penjelasannya, aangin topan tropis dapat terjadi secara mendadak, tetapi sebagian besar badai tersebut terbentuk melalui suatu proses selama beberapa jam atau hari yang dapat dipantau melalui satelit cuaca. Monitoring dengan satelit dapat untuk mengetahui arah angin topan sehingga cukup waktu untuk memberikan peringatan dini. Meskipun demikian perubahan sistem cuaca sangat kompleks sehingga sulit dibuat prediksi secara cepat dan akurat. Intinya, kita bakal dikasih tahu lewat berita kalau ada angin topan yang sedang mengarah ke kota, kecuali jika angin topan itu terjadi secara mendadak.

Cara mengatasinya gimana?
1. Membuat struktur bangunan yang memenuhi syarat teknis untuk mampu bertahan terhadap gaya angin.
2. Perlunya penerapan aturan standar bangunan yang memperhitungkan beban angin khususnya di daerah yang rawan angin topan
3. Penempatan lokasi pembangunan fasilitas yang penting pada daerah yang terlindung dari serangan angin topan.
4. Penghijauan di bagian atas arah angin untuk meredam gaya angin.
5. Pembuatan bangunan umum yang cukup luas yang dapat digunakan sebagai tempat penampungan sementara bagi orang maupun barang saat terjadi serangan angin topan.
6. Pengamanan/perkuatan bagian-bagian yang mudah diterbangkan angin yang dapat membahayakan diri atau orang lain disekitarnya.
7. Kesiapsiagaan dalam menghadapi angin topan, mengetahui bagaimana cara penyelamatan diri.
8. Pengamanan barang-barang disekitar rumah agar terikat/dibangun secara kuat sehingga tidak diterbangkan angin
9. Untuk para nelayan, supaya menambatkan atau mengikat kuat kapal-kapalnya.

Baca Selengkapnya...